Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Januari 2010

Habib Ali Al-Jufri: Pelopor Dakwah Masa Depan

Penampilan fisiknya mengagumkan: tampan, berkulit putih, tinggi, besar, berjenggot tebal dan rapi tanpa kumis. Wajar jika kehadirannya di suatu majelis selalu menonjol dan menyita perhatian orang.

Tetapi kelebihannya bukan hanya itu. Kalau sudah berbicara di forum, orang akan terkagum-kagum lagi dengan kelebihan-kelebihannya yang lain. Intonasi suaranya membuat orang tak ingin berhenti mengikuti pembicaraannya. Pada saat tertentu, suara dan ungkapan-ungkapannya menyejukkan hati pendengarnya. Tapi pada saat yang lain, suaranya meninggi, menggelegar, bergetar, membuat mereka tertunduk, lalu mengoreksi diri sendiri.

Namun jangan dikira kelebihannya hanya pada penampilan fisik dan kemampuan bicara. Materi yang dibawakannya bukan bahan biasa yang hanya mengandalkan retorika, melainkan penuh dengan pemahaman-pemahaman baru, sarat dengan informasi penting, dan ditopang argumentasi-argumentasi yang kukuh. Wajar, karena ia memang memiliki penguasaan ilmu agama yang mendalam dalam berbagai cabang keilmuan, ditambah pengetahuannya yang tak kalah luas dalam ilmu-ilmu modern, juga kemampuannya menyentuh hati orang, membuat para pendengarnya bukan hanya memperoleh tambahan ilmu dan wawasan, melainkan juga mendapatkan semangat dan tekad yang baru untuk mengoreksi diri dan melakukan perubahan.

Itulah sebagian gambaran Habib Ali bin Abdurrahman Al-Jufri, sosok ulama dan dai muda yang nama dan kiprahnya sangat dikenal di berbagai negeri muslim, bahkan juga di dunia Barat.

Ia memang sosok yang istimewa. Pribadinya memancarkan daya tarik yang kuat. Siapa yang duduk dengannya sebentar saja akan tertarik hatinya dan terkesan dengan keadaannya. Bukan hanya kalangan awam, para ulama pun mencintainya. Siapa sesungguhnya tokoh ini dan dari mana ia berasal?

Menimba Ilmu dari para Tokoh Besar
Habib Ali Al-Jufri lahir di kota Jeddah, Arab Saudi, menjelang fajar, pada hari Jum’at 16 April 1971 (20 Shafar 1391 H). Ayahnya adalah Habib Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi Al-Jufri, sedangkan ibundanya Syarifah Marumah binti Hasan bin Alwi binti Hasan bin Alwi bin Ali Al-Jufri.

Di masa kecil, ia mulai menimba ilmu kepada bibi dari ibundanya, seorang alimah dan arifah billah, Hababah Shafiyah binti Alwi bin Hasan Al-Jufri. Wanita shalihah ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam mengarahkannya ke jalur ilmu dan perjalanan menuju Allah.

Setelah itu ia tak henti-hentinya menimba ilmu dari para tokoh besar. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf adalah salah seorang guru utamanya. Kepadanya ia membaca dan mendengarkan pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Tajrid Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, dan kitab-kitab penting lainnya. Cukup lama Habib Ali belajar kepadanya, sejak usia 10 tahun hingga berusia 21 tahun.

Ia juga berguru kepada Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, ulama terkemuka dan penulis karya-karya terkenal. Di antara kitab yang dibacanya kepadanya adalah Idhah Asrar `Ulum Al-Muqarrabin. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki juga salah seorang gurunya. Kepadanya ia mempelajari kitab-kitab musthalah hadits, ushul, dan sirah. Sedangkan kepada Habib Hamid bin Alwi bin Thahir Al-Haddad, ia membaca Al-Mukhtashar Al-Lathif dan Bidayah Al-Hidayah.

Ia pun selama lebih dari empat tahun menimba ilmu kepada Habib Abu Bakar Al-`Adni bin Ali Al-Masyhur, dengan membaca dan mendengarkan kitab Sunan Ibnu Majah, Ar-Risalah Al-Jami`ah, Bidayah Al-Hidayah, Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, Tafsir Al-Jalalain, Tanwir Al-Aghlas, Lathaif Al-Isyarat, Tafsir Ayat Al-Ahkam, dan Tafsir Al-Baghawi.

Pada tahun 1412 H (1991 M) Habib Ali mengikuti kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, hingga tahun 1414 H (1993 M).

Kemudian ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan juga mendampingi Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz sejak tahun 1993 hingga 2003. Kepadanya, Habib Ali membaca dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk Al-Murid, Risalah Al-Mu`awanah, Minhaj Al-`Abidin, Al-`Iqd An-Nabawi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Al-Hikam, dan sebagainya.

Selain kepada mereka, ia pun menimba ilmu kepada para tokoh ulama lainnya, seperti Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Sya`rawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi di Al-Jami` Al-Husaini dan di Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, juga Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Di samping itu, Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu.

Dakwah yang Dialogis
Berbekal berbagai ilmu yang diperolehnya, ditambah pengalaman berkat tempaan para gurunya, ia pun mulai menjalankan misi dakwahnya. Aktivitas dakwahnya dimulai pada tahun 1412 H/1991 di kota-kota dan desa-desa di negeri Yaman. Ia kemudian berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Perjalanannya ke mancanegara dimulai pada tahun 1414 H/1993 dan terus berlangsung hingga kini.

Berbagai kawasan negara dikunjunginya. Misalnya negara-negara Arab, yakni Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Lebanon, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Jibouti.

Negara-negara non-Arab di Asia, di antaranya Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, Sri Lanka. Di Afrika, di antaranya ia mengunjungi Kenya dan Tanzania. Sedangkan di Eropa, dakwahnya telah merambah Inggris, Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia Herzegovina, dan Turki. Ia pun setidaknya telah empat kali mengadakan perjalanan dakwah ke Amerika Serikat; pertama tahun 1998, kedua tahun 2001, ketiga tahun 2002, dan keempat tahun 2008. Di samping juga mengunjungi Kanada

Perjalanan dakwahnya ke berbagai negeri membawa kesan tersendiri di hati para jama’ah yang mendengarkan penjelasan dan pesan-pesannya.

Di Jerman, ia membuat jama’ah masjid sebanyak tiga lantai menangis tersedu-sedu mendengar taushiyahnya. Orang-orang yang tinggal di Barat, yang cenderung keras hatinya, ternyata bisa lunak di tangan Habib Ali. Di Amerika ada yang merasa bahwa memandang dan berkumpul bersama Habib Ali Al-Jufri selama satu malam cukup untuk memberinya tenaga dan semangat untuk beribadah selama tiga bulan. Di Inggris ia terlibat pelaksanaan Maulid Nabi di stadion Wembley. Di Denmark ia mengadakan jumpa pers dengan kalangan media massa.

Di Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut setiap tahun, bulan Rajab-Sya`ban, ia menjadi pembicara rutin Daurah Internasional. Ia pun merangkul para dai muda di Timur Tengah, serta membimbing dan memberikan petunjuk kepada para pemuda yang berbakat. Ia suka duduk bersama para pemuda dan mengadakan dialog terbuka secara bebas.

Dalam berdakwah, ia aktif menjalin hubungan dengan berbagai kalangan masyarakat. Ia memasuki kalangan yang paling bawah, seperti suku-suku di Afrika, hingga kalangan paling atas, seperti keluarga keamiran Abu Dhabi. Ia berhubungan dengan kalangan awam hingga kalangan yang paling alim, seperti Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (mufti de facto negeri Syria), Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya.

Banyak sekali bintang film, artis dan aktris, para seniman, di Mesir yang bertaubat di tangannya. Ini mengakibatkan pemerintah Mesir merasa khawatir, kalau hal ini berlangsung terus akan memberikan dampak buruk bagi industri perfilman Mesir, yang merupakan salah satu sumber penghasilan utama setelah pariwisata. Artis yang sebelumnya “terbuka” jadi berhijab, yang dulunya aktor jadi berdakwah.

Kini ia pun secara rutin tampil di televisi. Penyampaian dakwahnya menyentuh akal dan hati. Cara dakwahnya yang sejuk dan simpatik, pandangan-pandangannya yang cerdas dan tajam, pembawaannya yang menarik hati, membuatnya semakin berpengaruh dari waktu ke waktu.

Kemunculan Habib Ali di dunia dakwah membawa angin segar bagi kaum muslimin, terutama kalangan Sunni. Cara dakwahnya berbeda dengan dakwah kalangan yang cenderung keras, kasar, dan kering dari nilai-nilai ruhani, serta cenderung menyerang orang lain, dan banyak menekankan pada model konflik ketimbang harmoni dengan kalangan non-muslim. Bahkan mereka memandang masyarakat muslim sekarang sebagai reinkarnasi dari masyarakat Jahiliyah.

Beberapa waktu lalu koran Denmark kembali menampilkan kartun Nabi. Berbeda dengan reaksi sebagian kalangan muslim yang penuh amarah dan tindak kekerasan di dalam menanggapinya, Habib Ali Jufri dengan kesejukan hatinya serta ketajaman pandangan, pikiran, akal, dan mata bathinnya telah melakukan serangkaian langkah yang bervisi jauh ke depan. Ia berharap, langkah-langkahnya akan berdampak positif bagi kaum muslimin, terutama yang tinggal di negara-negara Barat, serta akan menguntungkan dakwah Islam di masa kini dan akan datang.

Bukannya melihat kasus ini sebagai ancaman dan bahaya terhadap Islam dan muslimin, Habib Ali justru secara cerdas melihat hal ini sebagai peluang dakwah yang besar untuk masuk ke negeri Eropa secara terbuka, untuk menjelaskan secara bebas tentang Rasulullah SAW dan berdialog dengan penduduk serta kalangan pers di sana tentang agama ini dan tentang fenomena muslimin. Singkatnya, ia justru melihat ini sebagai peluang dakwah yang besar.

Tentu saja cara pandang Habib Ali juga disebabkan pemahamannya yang sangat dalam tentang karakter masyarakat Barat. Salah satu karakter terbesar mereka adalah mempunyai rasa ingin tahu yang besar, berpikir rasional, dan memiliki sikap siap mendengarkan. Karakter-karakter umum ini, ditambah sorotan perhatian kepada Rasulullah, merupakan peluang besar untuk memberikan penjelasan. Mereka ingin tahu tentang Nabi SAW, berarti mereka dalam kondisi siap mendengarkan. Mereka rasional, berarti siap untuk mendapatkan penjelasan yang logis.

Apabila kita bisa menjelaskan tentang Nabi SAW dan agama ini kepada mereka dengan cara yang menyentuh akal dan hati mereka, maka kita justru akan bisa mengubah mereka. Dari yang anti menjadi netral, yang netral menjadi pro, yang pro menjadi muslim, yang antipati menjadi simpati, yang keras menjadi lembut, yang marah menjadi dingin, yang acu menjadi penasaran. Sekaligus pula mencegah simpatisan menjadi oposan, pro menjadi anti dan seterusnya.

Karena karakter masyarakat Barat yang terbuka, toleran, lebih bisa menerima keanekaragaman budaya, maka peluang dakwah terbuka bebas. Inilah ranah ideal untuk dakwah Islamiyah. Tentu saja ini bagi para da`i yang berfikiran terbuka, berakal lurus dan tajam, cerdas memahami situasi kondisi, dan memiliki dada yang cukup lapang dalam menerima tanggapan negatif, serta giat melakukan pendekatan yang konstruktif dan positif, serta memiliki akhlak yang mulia. Di sinilah Habib Ali Al-Jufri masuk dengan dakwahnya yang dialogis.

Terjalinnya Silaturahim
Tentu saja untuk berani melakukan dialog dengan pers Barat dibutuhkan kecerdasan dan keluasan berpikir serta pemahaman atas pola berpikir masyarakat Barat. Habib Ali dan para dai ini, selain sangat memahami masyarakat Barat, juga memiliki tim khusus yang melakukan penelitian-penelitian secara ilmiah dan mendetail tentang subyek apa pun yang dibutuhkan.

Ketika melihat berbagai reaksi yang ada atas kasus kartun Nabi, Habib Ali menemukan satu benang merah: semua kelompok dalam masyarakat Islam marah. Kemarahan yang mencerminkan masih adanya sisa-sisa mahabbah kepada Nabi SAW ini bersifat lintas madzhab, lintas thariqah, lintas jama’ah, bahkan lintas aqidah. Habib Ali melihat ini sebagai peluang pula untuk menyatukan visi kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka. Kalau kaum muslimin tak bisa bersatu dalam madzhab, thariqah, bahkan aqidah, mereka ternyata bisa disatukan dalam mahabbah dan pembelaan terhadap Nabi SAW.

Langkah Habib Ali tidak berhenti di sini. Ia membentuk sekelompok dai yang dikenal dengan akhlaqnya, keterbukaan pikiran dan keluasan dadanya, serta kesiapannya untuk melakukan dialog secara intensif dan bebas dengan masyarakat Barat. Kemudian ia bersama kelompok dai ini mengadakan safari intensif keliling Eropa bertemu dengan kalangan pers dan berbagai kalangan lainnya untuk memberikan penjelasan.

Habib Ali dan para dai tersebut mengambil momen ini untuk memupuk cinta muslimin kepada Rasulullah, untuk menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang lama mati, dan untuk mengajak muslim berakhlaq mulia sebagaimana akhlaq nabinya, sambil mengingatkan kaum muslimin yang berdemo agar menjaga adab dan akhlaq Nabi. Ia juga menyeru kepada kaum muslimin untuk memanfaatkan momen ini dengan menghadiahkan buku-buku tentang Nabi Muhammad kepada para tetangga dan kawan-kawan mereka yang non-muslim, serta untuk membuka topik untuk menjelaskan kepada mereka tentang Rasulullah dan kedudukan beliau di lubuk hati kaum muslimin.

Bukan hanya itu. Ia pun memanfaatkan momen ini untuk menyatukan dai-dai sedunia dalam satu shaf dan mempelopori berdirinya organisasi dai sedunia. Yang menarik, dalam semua tindakan dan langkahnya ini, ia senantiasa menggandeng, berkoordinasi, dan bermusyawarah serta melibatkan para ulama besar dunia, seperti Syaikh Muhammad Sa`id Ramadhan Al-Buthi, Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya. Sehingga gerakan ini menjadi gerakan kolektif, milik bersama, bukan milik Habib Ali saja.

Sebagai salah satu dampak dari gerakan ini adalah terjalinnya silaturahim dan tersambungnya komunikasi yang sebelumnya terputus atau kurang intensif di antara para ulama dan dai muslimin karena mereka menjadi giat berkomunikasi lintas madzhab, pemikiran, kecenderungan pribadi, bahkan lintas aqidah.

Gerakan yang dipelopori Habib Ali ternyata mampu mengikat sejumlah besar pemuka Islam dari berbagai latar belakang yang berbeda ke dalam satu shaf lurus yang panjang untuk bersama-sama menanggapi sebuah isu internasional dengan satu suara bulat yang tidak terpecah-pecah.
Kita berharap, ini tidak akan berakhir, bahkan justru menjadi sebuah awal dari persatuan ulama dan dai-dai muslimin.

( sumber : www. majalah-alkisah.com )


Read more...

Rabu, 14 Oktober 2009

Imam Wajihuddin Abdurrahman Ad Diba`i (866 - 944 H)

Nama beliau Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Al-Diba`i As-Syaibaniy. kata " Diba`" adalah julukan (laqob) kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf Diba` yang dalam bahasa Sudan berarti putih.

Beliau dilahirkan di kota Zabid (Zabid (salah satu kota di Yaman Utara) pada sore hari Kamis 4 Muharram 866 H.) Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW., tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah. Dimana saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariah (diantaranya adalah Abu Musa Al-Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al-Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya atas kedatangan mereka Nabi Muhammad SAW. berdoa memohon semoga Allah SWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al-Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi, hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan di Zabid masih bisa dirasakan. Hal ini karena generasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan islam.

Masa Kecil Ibn Diba`

Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar, bahwa ayahnya meninggal didaratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabid ad-Diba'i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah: ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.

Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah Ibn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` dibawah bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Ditengah-tengah sibuknya belajar hadis, Ibn Diba' menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.

Pelajaran penting dari ad-diba'i

Ibn Diba' mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al-fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al-fatihah. Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara “ wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah” lalu orang –orang bertanya “kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” kemudian dijawab, karena mereka sering membaca surat Al-fatihah.

Karya ad-diba'i

Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadis ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i, Meskipun ada yang menisbatkan Maulid ini kepada Ibn jauzi, hanya saja pendapat ini sangat lemah.

Diantara buah karyanya yang lain : Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair. Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab. Ibn Diba'I wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H
dan pengarang kitab. Ibn Diba'I wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H




Read more...

Senin, 27 April 2009

Habib Muhammad Quraisy bin Mujtaba Alaydrus

Pelajar Dua Tanah Yaman

Awalnya, ia sendiri hanya merencanakan meninggalkan Indonesia hanya dalam waktu dua tahun saja. Namun semangatnya dalam menuntut ilmu telah membawanya berkelana selama empat tahun di dua kota pusat ilmu di tanah Yaman.

Hingga kini, sudah cukup banyak pelajar dari Indonesia yang berkesempatan menimba ilmu di kota Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan. Dari sekian banyak pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di kota Tarim tersebut, hampir tidak pernah terdengar ada di antara mereka yang juga mendatangi kota Zabid, Yaman Utara, untuk tujuan yang sama. Padahal, kota Zabid juga terkenal sebagai kota pusat ilmu.

Seperti halnya Tarim, sejak dulu hingga saat ini, kota Zabid banyak melahirkan ulama-ulama besar. Hingga dikatakan bahwa Zabid adalah Tarimnya Yaman Utara. Adalah Habib Quraisy, atau lengkapnya adalah Habib Muhammad Quraisy bin Mujtaba Alaydrus, satu di antara sedikit sekali pelajar Indonesia yang pernah tercatat menimba ilmu di Rubath Zabid, setelah beberapa tahun sebelumnya berguru di Rubath Tarim, Hadhramaut.

Meski masih terbilang muda usia, perjalanan hidup Habib Quraisy, pemuda kelahiran Malang 31 Juli 1975, sarat dengan hikmah, terutama pada masa-masa belajarnya di kota Zabid, Yaman Utara tersebut. Saat ini, putera dari pasangan Habib Mujtaba bin Mushthafa Alaydrus dan Syarifah Maryam binti Muhammad Ba’bud ini dipercaya untuk melanjutkan majlis rauhah kakeknya, Habib Muhammad bin Husain Ba’bud, Lawang, Jawa Timur, yang sempat vakum cukup lama, yaitu sejak wafatnya Habib Muhammad sekitar lima belas tahun yang lalu.

Hikmah Sakitnya Sang Kakek

Beberapa tahun silam, sewaktu Habib Muhammad bin Husain Ba’bud sedang menjalani operasi prostat sekitar lima tahun sebelum tutup usia, isteri Habib Muhammad Ba’bud yang bernama Syarifah Aisyah binti Husain Bilfagih, berharap agar ada dari salah seorang cucunya yang mau menemaninya. Di antara para cucunya itu, Habib Quraisy, yang pada saat itu masih berusia sekitar 12 tahun, bersedia memenuhi keinginan sang nenek.

Habib Quraisy pun kemudian tidur di kamar Habib Muhammad, pada ranjang yang berbeda. Ternyata, kebiasaan itu terus berlanjut, bahkan setelah Habib Muhammad sembuh dari sakitnya. Quraisy kecil tetap tidur satu kamar dengan Habib Muhammad bin Husain Ba’bud dan isterinya, Syarifah Aisyah binti Husain Bilfagih. Praktis, sebagian besar waktu dari masa kecilnya, dihabiskannya bersama dengan Habib Muhammad.

Tinggal sehari-hari bersama dengan Habib Muhammad Ba’bud tentunya merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga. Ketimbang merasa sebagai cucu, ia sendiri akhirnya lebih merasa bagaikan anak dari Habib Muhammad. Sejak saat itu, Habib Quraisy kerap terlihat mendampingi Habib Muhammad pada majlis-majlisnya. Ia juga mulai mengikuti pelajaran-pelajaran di Darun Nasyi’ien, pondok pesantren yang didirikan dan diasuh oleh kakeknya tersebut.

Setelah kurang lebih sekitar lima tahun mendampingi sang kakek, pada tahun 1993, Habib Muhammad wafat. Sekitar satu tahun setelah wafatnya Habib Muhammad, Habib Quraisy yang kala itu mulai beranjak remaja meninggalkan tanah kelahirannya dan merantau ke negeri seberang, Martapura, Kalimantan Selatan. Keberangkatannya ke Martapura kala itu ternyata menjadi awal langkah panjang perjalanannya dalam mengarungi pengembaraan keilmuannya di kemudian hari.

Paspornya tak Terpakai

Sekitar tahun 1994, ia mendengar kabar tentang Habib Umar Bin Hafidz yang mulai membuka pondok Darul Musthafa di Hadhramaut. Mendengar kabar itu, ia ingin sekali berangkat ke sana. Maka ia pun mulai mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mengurus pembuatan paspor. Rupanya takdir Allah SWT berkata lain. Setelah paspornya sudah jadi, karena disebabkan faktor biaya dan faktor-faktor lainnya, ia tak kunjung berangkat.

Namun semangat kuat dalam dirinya untuk ingin mengaji, membawa langkah kakinya ke bumi Martapura. Ia sendiri sebenarnya menyadari bahwa pendidikan di Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien, tempatnya tumbuh besar selama ini, cukup bagus pula bagi dirinya. Akan tetapi karena pesantren tersebut ada dalam lingkungan keluarganya sendiri, ia khawatir dirinya tidak akan berusaha maksimal dalam menuntut ilmu.

Pada waktu itu, banyak santri Darun Nasyi’in yang berasal dari Banjar. Suatu hari terdengar kabar tentang rencana penyelenggaraan haul KH Anang Sya’rani Arif, seorang ulama besar di Martapura. KH Anang Sya’rani Arif adalah kawan seperguruan KH Syarwani Abdan, Tuan Guru Bangil. Saat itu, salah satu cucu KH Anang Sya’rani Arif yang merupakan santri pondok Darun Nasyi’in, mengajaknya untuk menghadiri acara haul tersebut.

Sesampainya di Martapura ia berjumpa dengan Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi, tokoh Alawiyyin di sana kala itu. Ia kemudian diajak shalat berjamaah bersama Habib Abubakar. Seusai shalat, Habib Abubakar yang saat ini berdomisili di Surabaya mengatakan kepadanya, “Ente semestinya jangan di sini, ente harus ke Tarim.” Demikian pesan Habib Abubakar kepadanya saat perjumpaannya pertama kali di Martapura pada waktu itu.

Memang, pada dasarnya dirinya pun berpikir seperti itu. Ia sendiri menyayangkan paspornya yang sudah jadi, tapi akhirnya tidak terpakai. Tapi ia sempat berpikir, insya Allah pintu untuk menuntut ilmu di Tarim harus melewati Martapura dulu. Setelah batal berangkat ke Tarim pada saat itu, maka daripada tidak pergi sama sekali, ia memutuskan lebih baik ia mengaji dulu di kota Martapura.

Pada awalnya, ia tidak bermaksud tinggal di rumah Habib Abubakar. Akan tetapi setelah pertemuan itu akhirnya ia hidup bersama Habib Abubakar selama enam bulan pertama keberadaannya di Martapura. Karena ingin mandiri, setelah enam bulan ia memutuskan untuk kos, dan tidak lagi tinggal serumah dengan Habib Abubakar.

Di Martapura, ia menaruh simpati pada cara mengajar Tuan Guru Zaini. Sekitar dua tahun lamanya ia melazimi majelis-majelisnya Guru Ijai, panggilan akrab Tuan Guru Zaini. Materi pengajaran Guru Ijai yang diikutinya, kebanyakan lebih menekankan pada aspek tashawuf. Meski sistem pengajaran Guru Ijai hanya seperti pada sebuah pengajian di majlis ta’lim, namun apa yang ia dapat dari pelajaran-pelajaran tashawuf yang disampaikan Guru Ijai itu dirasakannya sangat membekas pada dirinya.

Selain pada Guru Ijai, di sana ia juga sempat masuk Madrasah Darussalam, sebuah lembaga pendidikan agama terbesar (pondok pesantren dan madrasah) di Martapura yang didirikan oleh Tuan Guru Kasyful Anwar. Ia juga sempat belajar ilmu-ilmu alat (perangkat tata bahasa Arab) kepada Guru Syukri di rumahnya.

Lebih Banyak yang Tak Resmi

Habib Quraisy, yang saat ini telah dikarunia tiga putera bernama Muhammad, Ahmad, dan Husain dari hasil pernikahannya dengan Syarifah Mas’adurridha binti Abdullah Al-Hamid, akhirnya pada tahun 1997 ditakdirkan juga berangkat ke Hadhramaut, sebagaimana yang telah menjadi impiannya selama ini. Keberangkatannya ini tak terlepas dari berkat doa kedua orang tuanya dan peran penting Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi yang membiayai keberangkatannya tersebut.

Dari Martapura, ia sempat menghubungi Habib Ali bin Muhammad Ba’bud, pamannya, untuk menyampaikan rencana kepergiannya. Saat itu Habib Ali mengatakan ia harus izin kepada guru tempat ia belajar selama ini, yaitu pada Guru Ijai. Sewaktu ia mengutarakan kepada Guru Ijai, Guru Ijai malah mengatakan bahwa ia harus meminta izin pada Habib Ali. Akhirnya, ia pun menganggap ini sebagai restu dari keduanya.

Sebelum terbang meninggalkan Indonesia menuju Hadhramaut, dari Martapura ia sempat pulang dulu ke Lawang untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya dan sanak keluarga lainnya. Sesampainya di Hadhramaut, ia masuk pada Rubath Tarim, asuhan Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri. Pada tahun pertama, pelajaran-pelajaran awalnya masih dibimbing oleh salah seorang santri senior yang berasal dari Banten, Indonesia. Ustadz Muhaimin, namanya.

Beberapa waktu kemudian, ia menjadi satu-satunya pelajar dari Indonesia yang memberanikan diri mengikuti halaqahnya Habib Hasan. Setiap hari bersama Habib Hasan, sekitar pukul sembilan pagi, ia mempelajari kitab At-Tanbih dalam fiqih dan kitab Ihya’ dalam tashawwuf. Sementara setiap hari Rabu dan Sabtu, ia menghadiri halaqah umum Habib Hasan di Rubath. Ia juga sempat mengkhatamkan kitab Bidayatul Hidayah pada Habib Hasan pada majlis rauhahnya setelah Ashar. Saat hendak mempelajari kitab itu, Habib Hasan memesankan kepadanya, pahami isi kitab tersebut dengan baik, kemudian amalkan apa saja yang ada di dalamnya.

Saat itu, ia bukanlah santri yang memiliki keistimewaan tersendiri hingga memberanikan diri mengikuti halaqahnya Habib Hasan seorang diri dari Indonesia. Mungkin kebanyakan santri dari Indonesia saat itu banyak yang sungkan untuk menghadiri halaqah tersebut, begitu pikirnya. Belakangan, setelah kepulangannya ke Indonesia, sejumlah santri Indonesia lainnya mengikuti jejaknya untuk mengikuti halaqah Habib Hasan di pagi hari tersebut.

Sekalipun ia sendiri merasa bekal ilmunya masih sedikit, namun kesan kuat dari pelajaran-pelajaran adab yang didapatnya sewaktu di Martapura, menimbulkan himmah tersendiri di dalam dirinya. Apalagi, ia juga memperhitungkan bahwa keberadaannya di sana tidak akan lama, yaitu hanya sekitar dua tahun saja. Karena itu ia ingin mempergunakan kesempatan berada di Hadhramaut dengan sebaik-baiknya.

Karena pertimbangan rencana waktu yang singkat itu, ia mensiasatinya dengan lebih mengejar faham di setiap pelajarannya dan tidak mengejar hafalannya. Di Rubath, pagi hari ia belajar ilmu Nahwu, sore dan malam hari ia belajar ilmu Fiqih dan beberapa materi lainnya. Berdasarkan petunjuk dari Habib Salim, di malam hari ia juga mendatangi beberapa ulama yang ada di sana. Sehingga ia cukup banyak memgikuti majelis-majelis ilmu di luar kurikulum Rubath itu sendiri.

Berdiri di Pintu Pabrik Roti

Suatu saat, Habib Salim pergi ke kota Madinah. Karena tujuannya mendatangi Rubath adalah secara intensif mengikuti pelajaran-pelajarannya Habib Salim, maka saat kepergian Habib Salim itu, ia berpikir untuk mencari kesempatan dengan mengisi waktu belajar di tempat lain. Ia pun akhirnya teringat dengan cerita-cerita Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi tentang kota Zabid. Nisbah Az-Zabidi di belakang nama Habib Abubakar sendiri memang dikarenakan dulu Habib Abubakar sempat menimba ilmu di kota Zabid tersebut. Habib Abubakar tampaknya bangga dengan kota Zabid itu, hingga dalam kitab Iqdul Yawaqit yang dicetaknya, ia menuliskan namanya dengan tambahan kata Az-Zabidi di belakang namanya. Ketika di Zubad, orang-orang di sana masih mengingat Habib Abubakar. Bahkan ia juga ditunjukkan kamar tempat Habib Abubakar tinggal dulu.

Maka bersama dua sahabatnya, yaitu Habib Abdul Qadir Alaydrus (dari Purwakarta) dan Musthafa Al-Hamid (dari Tanggul), ia memutuskan pergi ke kota Zabid, melalui kota Shan’a. Karena tidak mempunyai uang, maka uang tiket kepulangan ke Indonesia milik Habib Musthafa Al-Hamid dipinjamnya sebagai ongkos menuju kota Zabid. Sesampainya di sana, tidak seberapa lama, seluruh uang yang dipegang olehnya dan kedua sahabatnya tersebut pun habis. Karena himmahnya pada ilmu, kepergiannya ke Zabid memang dapat dikatakan lebih banyak nekatnya. Karena di Rubath Zabid itu, hanya dirinya dan kawannya sajalah pelajar yang berasal dari Indonesia. Tidak ada sanak saudara atau bahkan kawan seperguruan lainnya.

Setelah hampir sekitar dua bulan lamanya di Zabid, salah seorang sahabatnya, Habib Musthafa Al-Hamid, pulang terlebih dahulu. Karena tak mempunyai uang sepeser pun, akhirnya ia berusaha menghubungi beberapa pihak di Jakarta agar dapat meminjamkan uang kepadanya untuk mengganti uang tiket ongkos kepulangan sahabatnya itu. Tidak mudah rupanya mencari uang untuk menggantikan uang kawannya tersebut, sekalipun akhirnya ada juga dari orang yang dihubunginya di Jakarta yang mau memberikan uang kepadanya untuk keperluan itu.

Di Rubath Zabid, berbeda sekali kondisinya dengan Rubath Tarim. Kalau di Rubath Tarim, ada pondokan dan makanan, sementara di Rubath Zabid yang ada hanya tempatnya saja. Kelihatannya Rubath Zabid memang cenderung sudah tidak terurusi lagi. Setiap hari ia makan di tempat itu juga, kemudian jalan sendiri ke rumah para guru. Terkecuali salah seorang gurunya, yaitu Syaikh Muhammad ‘Izzy yang setiap hari datang ke Rubath.

Ia mengalami kehidupan yang sangat payah di Rubath tersebut. Tapi subhanallah, sekalipun seringkali harus menahan tidak makan, yang namanya rizqi itu memang selalu ada. Allah SWT memang tak akan membiarkan hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berusaha dalam kebaikan.

Saat itu ada seorang anak kecil yang mungkin memperhatikan dirinya. Dari rumah tempat tinggalnya, terkadang ia membawakan makanan pada sebuah mangkuk dari seng. Makanannya itu dari bahan sejenis gandum dengan ada rasa sedikit kecut. Karena sering menahan lapar, maka saat si anak kecil itu membawakan makanan kepadanya, rasa dari makanan tersebut nikmatnya luar biasa. Mungkin kalau di Indonesia, makanan itu tidak termakan olehnya.

Di Rubath Zabid itu, sebenarnya ada juga yang masak dengan biaya urungan sesama santri yang tinggal di sana. Tapi karena ia tidak pegang uang sama sekali, ia tidak ikut urungan. Setelah beberapa lama, akhirnya ada juga yang memperhatikan kondisinya itu dan menaruh belas kasihan. Bahkan karena itu, akhirnya keberadaannya memberi manfaat kepada santri-santri lainnya yang ada di Rubath tersebut.

Kisahnya bermula dari informasi yang disampaikan kepada tiga pabrik roti yang letaknya tidak jauh dari Rubath. Kepada pemilik tiga pabrik roti tersebut diinformasikan, bahwa saat itu ada dua pelajar dari Indonesia yang kondisinya serba berkekurangan. Rupanya mereka kasihan dan menaruh simpati kepadanya. Akhirnya setiap hari, ia dan kawannya dipersilahkan mengambil roti kesana setiap hari. Setiap habis maghrib, ia berangkat ke pabrik roti itu, mengetuk pintu, mengucapkan salam, kemudian berdiri di pabrik roti tersebut. Pokoknya, hampir seperti yang dilakukan para pengemis saja. Mereka pun sudah paham dan kemudian segera memberikan roti kepadanya. Sekalipun yang datang cuma berdua, ia dan kawannya, tapi biasanya mereka memberi hingga sepuluh potong roti. Karena itu, kawan-kawan santri yang ada di Rubath pun akhirnya mendapatkan roti juga dari pemberian itu. Untuk sarapan dan makan malam, ia selalu makan roti hasil pemberian ketiga pabrik roti tersebut. Kalau makan siang, baru ia makan nasi bersama-sama di dalam Rubath.

Selain masalah makanan, ia juga kerepotan pada masalah ketersediaan air. Bila ingin mandi, ia hanya dijatahi 3 liter air dan untuk wudhu 1 liter air. Bangunan kamar mandinya pun setengah badan. Alhamdulillah, tidak seberapa lama ia di sana, ada orang yang berkenan membantu untuk membangun kamar mandinya itu hingga jadi benar-benar tertutup.

Walhasil, pada awalnya ia memang membayangkan beratnya hidup sewaktu akan berangkat ke Tarim. Sesampainya di Tarim ternyata kehidupan yang dihadapi tidak sesulit yang ia bayangkan. Tapi sewaktu ia sampai di Zabid, bayangan pertamanya tentang kesulitan hidup muncul kembali menjadi kenyataan.

Sewaktu di Hadhramaut, tubuhnya cukup gemuk. Di Zabid, ia menjadi langsing, demikian ia mengisitilahkannya. Itu dikarenakan ia banyak berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter jaraknya untuk menuju rumah para guru. Tapi rupanya ia menikmati kondisi itu. Sekali lagi ia merasa, pengaruh ajaran yang diterimanya sewaktu di Martapura yang banyak membicarakan adab dan menekankan aspek tasawuf, menjadi bekal yang sangat berharga baginya.

Sehari, 8 sampai 9 Guru

Kepada Syech Muhammad ‘Izzy, ia membaca kitab fiqh Ibn Qasim dan kitab ushul fiqh Al-Waraqat. Di luar itu, ia keluar mendatangi rumah para ulama di sana. Di kota Zabid, mayoritas ulamanya bermadzhabkan Syafi’i. Begitu juga para ulama tempat ia menimba ilmu. Ada salah seorang di antaranya yang bermadzhab Hanafi, yaitu Syaikh Asad Hamzah Al-Awsi. Tapi karena keluasan ilmu Syaikh Asad Hamzah Al-Awsi, ia dapat berfatwa dalam dua madzhab, Hanafi dan Syafi’i.

Di Zabid, ia benar-benar memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin. Ia sadar, bahwa ia tak akan bertahan lama di kota Zabid ini. Untuk itu, setiap kali ia mulai bertemu dengan mereka dan meminta waktu untuk belajar kepada mereka, ia selalu meminta agar tidak memulai pembacaan kitab dari awal, tetapi kelanjutan dari bacaan yang telah dibaca di Rubath Tarim. Dalam satu harinya, ia bisa mendatangi delapan hingga sembilan guru.

Di antara guru-gurunya sewaktu di Zabid adalah Syekh Muhammad bin Ali Al-Baththah, yang merupakan dzurriyah dari pengarang kitab Kawakibudduriyah, Syekh Muhammad Sulaiman Asy-Syarafi Al-Hasani, Syekh Ali Muhammad Abdullah Sulaiman Washil Al-Hasani, Syekh Sa’id Dabwan Al-Abdali, Syekh Muhammad Al-‘Imbari Al-Ahdal (keluarga ‘Imbari di kota Zabid adalah keluarga yang memegang sehelai rambut Rasul yang mereka dapatkan dari Turki yang karena itu di antaranya kota Zabid banyak diziarahi). Guru-gurunya tersebut adalah para mufti di kota Zabid. Selain itu, ia juga mendatangi sejumlah pemuda alim di kota Zabid dan belajar dari mereka. Dari para gurunya itu, ia mendapatkan ijazah tertulis pada setiap kitab yang ia baca.

Ia juga sempat mendatangi Baitul Faqih dan Murawa’ah, suatu daerah yang terletak berdekatan dengan kota Zabid. Para ulamanya di sana sangat bersahaja. Sekalipun ternyata mereka adalah para alim besar, namun cara berpakaiannya tidak berbeda dengan warga biasa lainnya. Ia bertabarruk kepada mereka dengan meminta ijazah dan sanad kitab dari para ulama di sana.

Kembali bersama Habib Salim

Setelah sekitar enam bulan di kota Zabid, ia melanjutkannya Baidha’, masih di wilayah Yaman Utara. Selama sekitar empat bulan ia tinggal di Rubath Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar, tempat Habib Umar bin Hafidz dulu menimba ilmu. Rubath ini sekarang diteruskan oleh anak-anaknya, yaitu Habib Husain (putera paling tua), Habib Zain, dan Habib Ibrahim (putera paling bungsu). Kepada Habib Husain ia membaca kitab Bidayatul Hidayah sedangkan kepada Habib Ibrahim ikut pada majlis rauhahnya.

Di Baidha’, ia juga membaca di antaranya kepada Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Muhammad Mardam, dan Syaikh Abdullah Syu’aibi. Ia mendapatkan ijazah dari para gurunya itu dan mendapatkan sanad-sanad kitab dari mereka. Sewaktu di Baidha’, sekalipun ia tetap dalam kondisi tidak mempunyai uang, tapi kehidupannya tidak sesulit sewaktu di Zabid. Kesehariannya hampir seperti di Rubath Tarim. Makanan dan sebagainya disediakan dari pondok. Bedanya, di Rubath Al-Hadar ini, rekan-rekan pelajarnya banyak yang berasal dari Somalia.

Suatu saat, haul Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar diperingati di Yafi’. Maka ia pun bermaksud pergi ke Yafi’ untuk menghadirinya. Di Yafi’ ia juga hendak berziarah kepada seorang ulama yang diakui kewaliannya, yaitu Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Hariri. Habib Salim Asy-Syathiri sendiri mengatakan bahwa Syaikh Al-Hariri ini acap berjumpa dengan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad secara yaqzhatan. Subhanallah, di dalam peringatan haul di Yafi’ itu ia berjumpa dengan Habib Salim yang baru saja pulang dari kepergiannya yang cukup lama ke kota Madinah.

Sewaktu di Yafi’, sekalipun singkat, akhirnya ia bersempatan membaca kitab kepada Syaikh Al-Hariri dengan niat tabarrukan. Ia sendiri di Yafi’ cuma dua hari, karenanya ia sengaja mengambil kesempatan-kesempatan seperti itu. Ia membaca kitab Muqaddimah fi Syarhil Burdah lil Bajuri.

Sewaktu peringatan haul, Syaikh Al-Hariri juga diminta berbicara. Di antara kata-katanya yang sangat berkesan baginya dan selalu diingatnya adalah saat Syaikh Al-Hariri mengatakan, “Bahwa jika kecintaan kepada keluarga Rasulullah SAW benar-benar tertanam di hati seseorang, maka jangankan kepada para sahabat Nabi SAW, kepada seorang muslim yang paling rendahpun ia tak akan pernah mencaci.” Syaikh Al-Hariri adalah seorang ulama yang bagaikan mabuk cinta kepada Nabi. Dari waktu ke waktu, lisannya terus menerus menyebut nama Rasulullah SAW.

Selesai acara haul, Habib Salim mengajaknya kembali bersama ke Tarim. Jadi, sewaktu Habib Salim berangkat ke Madinah, ia berangkat pula ke Zabid. Sepulangnya Habib Salim dari Madinah, ia ikut pulang bersama Habib Salim ke kota Tarim. Dua karton kitab miliknya beserta tas besar yang berisi perlengkapan pribadinya diikatkannya di atas mobil yang ditumpanginya bersama Habib Salim tersebut.

Perjalanan pulang ke kota Tarim bersama Habib Salim menjadi perjalanan yang sangat mengesankan baginya. Sepanjang perjalanan di atas mobil, ia perhatikan Habib Salim selalu melaksanakan shalat sunnah. Di sepanjang perjalanan, Habib Salim juga selalu menyempatkan diri menziarahi maqam-maqam para ulama yang dilewati, seperti di Aden, Mukalla, Ta’iz, hingga sampai kembali di kota Tarim.

Kepulangannya kembali ke kota Tarim saat itu terjadi pada bulan Rabiul Awwal. Beberapa bulan lamanya ia kemudian meneruskan kembali pelajaran-pelajarannya dengan Habib Salim di Rubath Tarim. Hingga pada bulan Ramadhan tahun itu juga, ia kembali ke Indonesia.

Kalau di total waktunya, pengembaraan keilmuannya di luar negeri memakan waktu sekitar empat tahun. Tiga tahun di Hadhramaut dan setahun di luar Hadhramaut. Namun waktu yang “cuma” empat tahun itu benar-benar telah dimanfaatkannya secara maksimal. Awalnya, ia sendiri hanya merencanakan meninggalkan Indonesia hanya dalam waktu dua tahun saja. Namun semangatnya dalam menuntut ilmu telah membawanya berkelana selama empat tahun di dua kota pusat ilmu di tanah Yaman. Perjalanan panjangnya itu kini menjadi buah yang menjadi bekal baginya dalam mengabdi pada Pondok Pesantren Darun Nasyi’in, peninggalan kakeknya tercinta.




Read more...

Habib Jindan bin Novel Bin salim Bin Jindan

Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.

Wajah dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal kalangan habaib dan muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya masih relatif muda, 31 tahun, namun reputasinya sebagai ulama dan muballig sudah diakui kaum muslimin. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis haul dan Maulid yang digelar di berbagai tempat – seperti Gresik, Surabaya, Solo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung, Palembang, Pontianak dan Kalimantan. Hampir semua daerah di negeri ini sudah dirambahnya.

Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.

Wajah ulama muda yang shalih ini tampak bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya berceramahnya yang enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukkan para pendengarnya. Seperti kebanyakan habib, dia pun memelihara jenggot, dibiarkannya terjurai.

Habib Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan Bin Syekh Abubakar, adalah salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Ia juga dikenal sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. “Ketika dia menerjemahkan taushiyah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar,” tutur Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf di Jakarta.

Berkah Ulama dan Habaib

Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10 Muharram 1398 atau 21 Desember 1977. Sejak kecil ia selalu berada di lingkungan majelis ta’lim, yang sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama. “Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis ta’lim di Jakarta oleh abah saya, Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan habaib yang termasyhur,” kenang bapak lima anak (empat putra, satu putri) ini kepada alKisah. Ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama.

Ketika ia berumur dua tahun, keluarganya tinggal di Pasar Minggu, bersebelahan dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad. Pada umur lima tahun, ia dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein Ba'bud dan putranya, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’abud, di Kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). “Di Lawang, sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama di sana, dibilang mengaji, tidak juga. Namun berkah dari tempat itu selama setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang,” ujarnya dengan senyum khasnya.

Menginjak umur enam tahun, ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur. Ia mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti.

Kemudian dia melanjutkan ke tingkat tsanawiyah di Madrasah Jami’atul Kheir, Jakarta, hingga tingkat aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami'at Kheir, banyak guru yang mendidiknya, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, K.H. Sabillar Rosyad, K.H. Fachrurazi Ibrahim, Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan lain-lain.

Sejak muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada habaib dan ulama di Jakarta, seperti di Madrasah Tsaqafah Islamiyah, yang diasuh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya, Ustadz Abu Bakar Assegaf. Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senen, Jakarta Pusat) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi, dengan ustadz-ustadz setempat.

Selain itu pada sorenya ia sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis Ta’lim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majelis itu, banyak habib dan ulama yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama, seperti Habib Abdullah Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib Muhammad Mulachela, Ustadz Hadi Jawwas, dan lain-lain.

Beruntung, karena sering berada di lingkungan Kwitang, ia banyak berjumpa para ulama dari mancanegara, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, dan masih banyak lainnya.

Pada setiap Ahad pagi, ia hadir di Kwitang bersama abahnya, Habib Novel, yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar 1993, ia bertemu pertama kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Ahad pagi. Pertemuan kedua terjadi saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jami’at Kheir. Saat itu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulachela dan Ustadz Hadi Assegaf.

Uniknya, satu-satunya kelas yang dimasuki Habib Umar adalah kelasnya, padahal di Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan kepada Habib Umar bahwa dirinya juga bermarga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.

Saat itulah Habib Umar tersenyum sambil memandang Habib Jindan. Itulah perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang kelasnya, yang masih terkenang sampai sekarang.

Sejak saat itu hatinya tergerak untuk belajar ke Hadhramaut. Pernah suatu ketika ia akan berangkat ke Hadhramaut, tapi sayang sang pembawa, Habib Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas), meninggal. Pernah juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi saudaranya itu sakit. Hingga akhirnya tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi, Condet) datang ke rumahnya mengabarkan bahwa Habib Umar bin Hafidz menerimanya sebagai santri.

Sumber Inspirasi

Lalu ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30 orang santri. Di antaranya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas, dan lain-lain. Ia kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadhramaut. “Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim. Kami tinggal di rumah Habib Umar,” tuturnya.

Baru dua minggu di Hadhramaut, pecah perang saudara di Yaman. Memang, situasi perang tidak terasa di lingkungan pondok. Ada perang atau tidak, Habib Umar tetap mengajar murid-muridnya. Namun dampak perang saudara ini dirasakan seluruh penduduk Yaman. Listrik mati, gas minim, bahan makanan langka. “Terpaksa kami masak dengan kayu bakar,” katanya.

Baginya, Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi. “Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang tak kenal lelah.”

Saat itu Darul Musthafa belum mantap seperti sekarang, situasinya serba terbatas. Walaupun begitu, sangat mengesankan baginya. Dahulu para santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman Habib Umar. Sedangkan pelajaran ta’lim, selain diasuh sendiri oleh Habib Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis ta’lim yang biasa digelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba'alwi, ta’lim di Zawiyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadhramaut), belajar kitab Ihya di Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti Tarim, diasuh Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal, dan lain-lain.

Selama mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan. “Beliau dalam mengajar tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar beliau mengomel atau memaki-maki kami. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih tahu. Selain itu, Habib Umar juga terkenal sangat istiqamah dalam hal apa pun.”

Habib Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik santri-santrinya bisa berdakwah. Para santri mendapat pendidikan khusus untuk memberikan taushiyah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh, masing-masing dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh menit. Latihan kultum itu juga menjadi ajang saling memberikan masukan antarsantri.

Setelah satu tahun menjadi santri, ada program dakwah tiga hari sampai seminggu bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.

Setelah selama kurang lebih empat tahun, tahun 1998, ia pulang ke Indonsia bersama rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa muridnya. Angkatan pertama ini hampir seluruhnya dari Indonesia, hanya dua-tiga orang yang santri setempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk mempersiapkan acara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.

Saat pertama kali pulang, ia, oleh sang abah, diperintahkan untuk berziarah ke para habib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Ayahandanya, Habib Novel, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf, dan Habib Anis Al-Habsyi mendorongnya untuk berdakwah.

Masukan, didikan, dan motivasi sang abah ia rasakan hingga sekarang. “Ikhlaslah dalam berdakwah. Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati,” kata Habib Jindan menirukan abahnya. Habib Novel (alm.) memang dikenal sebagai orator ulung sebagaimana abahnya, Habib Salim bin Jindan. Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yang tangguh.

“Kalau ceramah, jangan terlalu panjang. Selagi orang sedang asyik, kamu berhenti. Jangan kalau orang sudah bosan, baru berhenti, nanti banyak audiens kapok mendengarnya. Lihat situasi dan keadaannya, sesuaikan dengan materi ceramahnya dan waktu ceramahnya. Lihat, kalau di situ ada beberapa penceramah, kamu harus batasi waktu berceramah dan bagi-bagi waktunya dengan yang lain.” Sampai masalah akhlaq dan sopan santun, semua orang diajarkan. AST




Read more...

Habib Umar bin Hafidz

Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera dari‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w.

Beliau terlahir di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua kakek beliau, al-Habib Salim bin Hafiz dan al-Habib Hafiz bin Abd-Allah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi al-Habib ‘Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.

Beliau telah mampu menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadith, Bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin ‘Alawi bin Shihab dan al-Shaikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, al-Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dhikr.
Namun secara tragis, ketika al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk sholat Jum‘ah, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang Da‘wah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid. Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk Majelis-majelis dan da’wah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al Qur’an dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.

Ia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.

Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang Mulia al-Habib Muhammad bin ‘Abd-Allah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Shafi‘i al-Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Ia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang Da‘wah.

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan sorban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w.

Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan da‘wah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Shaikh al-Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.

Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni al-Habib Ahmed Mashur al-Haddad dan al-Habib ‘Attas al-Habashi.

Sejak itulah nama al-Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan. Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.

Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman. Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.

Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis. Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.

Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.

(www.majelisrasulullah.org)


Read more...

Followers

About Me

I am now a college boy in STMIK Balikpapan

Text

GEOTOOLBAR

  ©Template by Dicas Blogger.